Resensi Buku "Pendidikan" Karya Ki Hajar Dewantara
IDENTITAS BUKU
Bagian Pertama : Pendidikan
Cetakan Kedua (1977)
Penulis : K. H. Dewantara
Penerbit : Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Yogyakarta
Profil Bapak Pendidikan Indonesia
LATAR BELAKANG
Nama asli Bapak Ki
Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau lahir di
Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah
Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke
STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tapi lantaran sakit, sekolahnya tersebut
tidak bisa dia selesaikan. Pada bulan November 1913, Ki Hadjar Dewantara
membentuk Komite Bumipoetra yang bertujuan untuk melancarkan kritik terhadap
Pemerintah Belanda. Salah satunya adalah dengan menerbitkan tulisan berjudul
Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr.
Douwes Dekker. Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui
Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman pengasingan terhadap Ki Hadjar
Dewantara.
Namun mereka
menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa mempelajari
banyak hal dari pada di daerah terpencil. Akhirnya mereka diizinkan ke Negeri
Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan
itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Pada tahun 1918, Ki
Hadjar Dewantara kembali ke tanah air. Di tanah air Ki Hadjar Dewantara semakin
mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan
meraih kemerdekaan. Bersama rekan-rekan seperjuangannya, dia pun mendirikan
sebuah perguruan yang bercorak nasional yang diberi nama Nationaal Onderwijs
Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa) pada 3 Juli 1922.
Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik
agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh
kemerdekaan.
Selama mencurahkan
perhatian dalam dunia pendidikan di Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara juga tetap
rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan
dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan itulah dia
berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
Kegiatan menulisnya ini terus berlangsung hingga zaman Pendudukan Jepang. Ki
Hadjar Dewantara dipercaya oleh presiden Soekarno untuk menjadi Menteri
Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai bapak
Pendidikan Nasional dan tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan
Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui
surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Ajarannya
yakni tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa
(di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di
depan memberi teladan) akan selalu menjadi dasar pendidikan di Indonesia.
Rangkuman Isi Buku
Kontribusi Ki
Hajar Dewantara dalam Pendidikan
Dalam bukunya yang
berjudul “Pendidikan”, Ki Hajar Dewantara mengungkapkan gagasan – gagasan
mengenai kekurangan dan permasalahan yang ada pada pendidikan di Indonesia saat
itu, mulai dari sistem pengajarannya sampai pada eksistensi pendidikan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam rangka memperbaiki kualitas pendidikan,
berikut beberapa gagasannya :
- Pengajaran rakyat harus
bersemangat keluhuran budi manusia, karena itu harus mementingkan segala nilai
kebatinan (mental culture) dan menghidupkan
semangat idealism.
- Pengajaran rakyat harus
mendidik ke arah kecerdasan budi pekerti, yakni character building.
- Pengajaran rakyat harus
mendidik ke arah kekeluargaan.
- Tiap – tiap orang harus dapat
kesempatan untuk menuntut pengajaran yang sesuai dengan dasar kecakapannya,
mulai pada sekolah tingkat rendah sampai pada sekolah tingkat tinggi.
- Pengajaran hendaknya bermanfaat
untuk kebudayaan dan kemasyarakatan.
- Pengajaran harus dapat berfaedah
untuk nusa dan bangsa, untuk itu disamping pengajaran yang bersifat pendidikan
umum, olahraga dan kesenian juga harus termasuk ke dalam pengajaran umum.
- Pengajaran yang berhubungan
dengan kebatinan, seperti pendidikan agama, adat – istiadat, dan kesusilaan
(moral) harus termasuk pula dalam pengajaran umum.
- Bahasa Indonesia harus
dipentingkan sebagai bahasa persatuan, lalu bahasa daerah hendaknya dijadikan
bahasa pengantar agar tetap lestari, dan terakhir bahasa asing atau
internasional.
- Selain usaha memperbanyak
jumlah sekolah – sekolah, hendaknya pemberantasan buta-huruf juga dilakukan
dengan giat tehadap orang dewasa, khususnya terhadap pemuda – pemuda yang tidak
pernah sekolah.
- Pemerintah hendaknya mengizinkan
rakyat mendirikan sekolah – sekolah menengah pertama dan tinggi, karena
kurangnya sekolah – sekolah negeri, terbukti dari banyaknya murid pada sekolah
Taman Siswa di Yogyakarta.
- Selain pendidikan formal,
pemerintah harusnya juga menyokong berdirinya pendidikan non formal, seperti
kursus – kursus yang diadakan oleh tenaga rakyat, misalnya pengajaran khusus
pertukangan, pertanian, dan lain – lain.
- Tentang lamanya dan waktunya
pengajaran hendaknya disesuaikan dengan umurnya anak – anak dan hawanya tanah
jawa.
- Pemerintah hendaknya
menyediakan alat – alat, misalnya buku pengajaran yang sama untuk tanah Jawa dan
biayanya.
- Hendaknya lulusan sekolah
partikelir (swasta) diperbolehkan masuk ke sekolah negeri lanjutan, apabila
mereka mempunyai ijazah yang sah dari sekolah asalnya, jika perlu lakukan ujian
percobaan masuk.
- Hendaknya pemerintah sendiri
juga mendirikan sekolah – sekolah yang cukup untuk seluruh rakyat yang ingin
bersekolah.
Itulah beberapa
gagasan atau usulan K.H.Dewantara mengenai pendidikan. Adapun kontribusi atau
peran yang beliau lakukan untuk merealisasikan gagasan – gagasannya, sebagai
berikut :
v
Menyusun dan menetapkan sistem pengajaran di Jawa
Berdasarkan gagasan – gagasan yang ingin segera dikehendaki oleh K. H. Dewantara, maka beliau mengajukan permohonan kepada pemerintah saat itu untuk membuat susunan layaknya kurikulum pendidikan di sekolah – sekolah rakyat di Jawa. Seperti, memasukkan pelajaran agama, olahraga, dan kesenian ke dalam pengetahuan umum, serta menetapkan waktu atau jam belajar yang dibutuhkan dan sesuai tingkat pendidikannya.
v
Mengupayakan pemberantasan buta huruf
Ki Hajar Dewantara membentuk berbagai perkumpulan, antara lain : perkumpulan perempuan (Kongres Putri Indonesia), pemimpin pemuda – pemuda, partai dan kumpulan rakyat (rukun tani), dan sebagainya. Perkumpulan tersebut mewajibkan para anggotanya untuk membantu memberantas buta huruf dan wajib mengajar membaca dan menulis.
v
Menciptakan pendidikan baru
Ki Hajar Dewantara menciptakan pendidikan baru dengan mengganti atau mengubah sistem pengajaran lama menjadi sistem pengajaran baru yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Semula, sistem pengajaran yang diterapkan di sekolah rakyat yaitu pengajaran Belanda yang semata – mata didasarkan pada azas dan dasar “kolonial”, untuk kepentingan penjajahan dari pihak bangsa Belanda. Dan sistem pengajaran tersebut mencerminkan ideologi “intellektualisme” dan “individualisme”. Hal ini dapat menurunkan rasa kekeluargaan dan rasa cinta tanah air pada diri rakyat. Sehingga, Ki Hajar Dewantara mengubah menjadi sistem pengajaran demokrasi.
v
Memberikan penghargaan terhadap perguruan
partikelir (swasta)
K.H. Dewantara mengupayakan agar sekolah partikelir/swasta mendapat perlakuan yang sama agar ijazah dari sekolah partikelir kebangsaan dapat penghargaan dan diakui. Sehingga, lulusannya bisa meneruskan pengajaran pada sekolah – sekolah negeri dan dapat mencari pekerjaan dalam jabatan negeri. Menurut surat dari Kantor Pengajaran di Jakarta tanggal 13 Maret 1943 No.996/bagian umum yang diterima oleh Majelis Luhur Taman Siswa di Yogya, diterangkan bahwa anak – anak yang berijazah Taman Dewasa (sekolah menengah pertama kepunyaan Taman Siswa) diperbolehkan menempuh ujian untuk masuk ke sekolah menengah tinggi negeri. Jadi, ijazah SMP Taman Siswa dipersamakan dengan ijazah SMP Negeri.
v
Membangun dan membuka Taman Tani – Taman Siswa
Berdirinya sekolah pertanian “Taman Tani” disebabkan oleh kebaikan pemerintah, baik dari Pemerintah Daerah Yogyakarta maupun dari Pemerintah Pusat. Selain itu, dapat diterima di berbagai sekolah negeri dan guru – guru diterima menjadi pegawai negeri serta diberikan hadiah istimewa berupa uang sejumlah 20.000 Rupiah untuk persediaan pendirian Taman Tani. Jumlah uang tersebut terbilang cukup besar pada zaman itu. Perguruan Taman Tani dimulai dengan 4 kelas pada tingkatan ke-I, 5 kelas pada tingkatan ke-II, dan 3 kelas pada tingkatan ke-III.
v
Mempertinggi dan memperteguh pendidikan pengajaran
rakyat
K. H. Dewantara mengajukan kepada pemerintah beberapa permohonan, seperti memperbanyak sekolah – sekolah menengah pertama dan sekolah rakyat serta sekolah partikelir, dan diadakan dana – belajar (studiefonds) untuk pendidikan rakyat jelata.
v
Memperluas, memperdalam, dan mempertinggi
pengajaran rakyat
Perluasan pengajaran pertengahan, tambahnya sekolah – sekolah guru, bahkan pembangunan pengajaran tinggi, dengan mengadakan berbagai jenis senmon gakko (college) dan dai gaku (sekolah tinggi) sangat tepat sebagai dasar pembentukkan negara baru. Dasar – dasar tersebut, terdiri dari : memberantas sifat individualisme, intellektualisme, dan materialisme.
v
Menyusun dasar – dasar pendidikan dan tujuan pengajarannya
Tentang dasar pendidikan adalah : menanamkan, memelihara, dan menguatkan rasa cinta tanah air pada murid – murid dalam segala pelajaran, serta menghapus segala isi pengajaran yang dapat melemahkan semangat nasionalisme. Selain itu, mengadakan upacara – upacara dan peraturan – peraturan yang dapat meneguhkan rasa cinta, bangga, dan setia pada NKRI. Kemudian, tentang maksud dan tujuan pengajaran adalah sebagai berikut : memperbaiki segala peraturan pengajaran hingga dapat memenuhi syarat – syarat dan tolak ukur internasional. Bahasa yang dipergunakan pada sekolah rendah hanya bahasa Indonesia dan bahasa daerah, sedangkan untuk sekolah menengah diperlukan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Daftar pengajaran di sekolah menengah puteri harus sama dengan yang dipakai di sekolah menengah pria, perbedaan hanya boleh pada pekerjaan keputerian. Sekolah menegah untuk laki – laki dan perempuan belajar bersama – sama dibolehkan, asalkan diadakan pengawasan menurut cara “tut wuri handayani” yaitu dengan cara kekeluargaan, bukan kekerasan.
Peluang – Peluang untuk Memperbaiki dan Melestarikan Pendidikan Masa Kini dan Masa Depan
1.
Memperbaiki metode pengajaran yang semula
pendidikan konvensional menjadi pendidikan berbasis digital
Pendidikan konvensional masih lebih menekankan kepada mengingat/ menghapalkan, memperoleh informasi hanya dari satu arah atau mengaplikasikan prosedur sederhana yang kemudian tidak membuat mereka mahir dalam berpikir kritis terhadap permasalahan yang dihadapi. entunya karena mengingat bahwa kita tidak ingin anak-anak usia sekolah saat ini lebih banyak belajar dari dunia digital yang mereka temui setiap saat dibanding dengan pembelajaran di dalam kelas yang sesuai dengan kebutuhannya.
2.
Memperbaiki proses belajar yang pasif menjadi aktif
Guru masih memiliki otoritas penuh terhadap proses pembelajaran dan menekankan kepada pengetahuan yang wajib dikuasai untuk kemudian diujikan dalam ulangan dan ujian akhir. Guru masih lebih banyak berperan sebagai sumber dan penyampai informasi bagi peserta didiknya. Selain itu, karakteristik materinya masih dibatasi dengan sumber-sumber baku yang terbatas dan peserta didik masih hanya sebagai penerima informasi. Pembelajaran kreatif merupakan salah satu metode yang dapat dikembangkan dalam mewujudkan tuntutan era digital pendidikan saat ini di antara banyak pilihan lainnya.
3.
Mengubah paradigma proses pembelajaran di dalam
kelas menjadi suatu proses yang penuh dengan pengalaman
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkolaborasi dengan gurunya, dengan temannya untuk membangun dan mengorganisasi pengetahuan, melibatkan diri dalam penelitian, belajar menulis dan menganalisis serta mampu mengkomunikasikan apa yang mereka alami sebagai suatu pemikiran baru sebagai wujud pengalaman sesuai dengan usia mereka.
4.
Melestarikan jenis pelajaran yang berkaitan dengan
kerohanian, keolahragaan, kebudayaan, dan kesenian sebagai pengajaran umum
Unsur – unsur tersebut sangat berpengaruh pada kualitas suatu pendidikan dan pengajaran. Hal ini perlu dilestarikan agar kedepannya pengajaran pada pendidikan tidak terlepas kaitannya dengan pelajaran agama, olahraga, seni musik, seni tari, dan lain – lain.
5.
Memperbaiki serta melestarikan pendidikan
berkarakter
Konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara sesuai dengan semboyan pendidikan bangsa Indonesia yaitu “Tut Wuri Handayani”. Filosofi ini sangat melekat pada dunia pendidikan sepanjang zaman. Ketiga semboyan yang dicetuskan oleh beliau yaitu : Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang guru harus memberi teladan yang baik), Ing Madya Maun Karsa (di tengah, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), serta Tut Wuri Handayani (dari belakang, guru harus memberi dorongan dan arahan). Oleh karena itu, seorang pendidik tidak hanya berkewajiban untuk mengajar ilmu pengetahuan, melainkan juga wajib mendidik dan memberi contoh teladan, budi pekerti, akhlak, serta karakter yang baik kepada murid – muridnya.
Ulasan Buku
Kelebihan dan Kelemahan Buku
Kelebihan
Buku :
1. Lengkap menjelaskan urutan
perkembangan pendidikan di Indonesia dari waktu ke waktu
2. Semua yang terkait dengan dunia
pendidikan dijelaskan dan dijabarkan dengan detail
3. Buku yang sangat bermanfaat
untuk menjadi tolak ukur, contoh, dan pelajaran dalam memperbaiki sistem,
metode pengajaran, dan lain sebagainya yang kurang efektif dan efisien bagi
pendidikan di Indonesia. Serta melestarikan budaya pendidikan yang baik dan
sesuai dengan karakteristik pendidikan di Indonesia.
4. Dari buku tersebut kita dapat
mencari tahu peluang – peluang dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
5. Menjelaskan sejarah hukum
pendidikan, seperti peraturan – peraturan mengenai pendidikan yang tercantum
pada konstitusi negara saat itu.
6. Menceritakan kondisi atau
keadaan pendidikan pada zaman itu sesuai realita/ kenyataan, dan dapat
dipertanggungjawabkan oleh si penulis.
Kelemahan
Buku :
- Bahasa yang digunakan dalam
penulisannya menggunakan ejaan lama, sehingga cukup sulit dipahami anak muda
zaman sekarang karena perbedaan beberapa kosa kata dari zaman ke zaman.
- Pembahasannya terlalu kompleks dan rumit karena tidak dijelaskan secara sederhana dan gamblang
- Isinya terlalu padat karena tidak dijelaskan dengan poin – poin pentingnya saja, namun keseluruhan.
- Terdapat kata – kata dalam
bahasa ilmiah yang terkadang tidak dijelaskan maksudnya, sehingga menjadi
ambigu.
- Terdapat bahasa Belanda dan
Jepang yang sulit dimengerti
- Terdapat beberapa singkatan kata yang tidak dijelaskan artinya.
Komentar
Posting Komentar