Aplikasi Tauhid dan Moral dalam Pendidikan Agama Islam

1)      Mensyukuri nikmat

Syukur kepada Allah, karena bila mau bersyukur, Allah akan menambah (kebaikan dan rezeki), tetapi bila manusia kufur nikmat, maka sungguh siksa Allah amat dahsyat. Seperti firman Allah, yakni:

Artinya: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrohim Ayat 7)

Maka bersyukur kepada Allah mestilah bertauhid, tidak ada lain.Sebab  orang  yang  musyrik  berarti  menghina  Allah,  durhaka  dantidak  mengerti  siapa  Allah  sebenarnya.

2)     Mentauhidkan Allah

Tanamkanlah rasa keimanan yang murni sejak anak mulai usia pada tingkatan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, karena naluri anak-anak yang seusia sekian telah bisa menerima pendidikan keimanan. Bahwa syirik adalah sebesar-besar dosa dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (Q.S An Nisa’:116)

3)     Berterima kasih kepada orang tua

“Memuliakannya dan menghormati orang tua, karena keduanya yang memelihara kita, terutama ibu, yang mengandung kita dalam keadaan payah”. Orang tua memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap anaknya. Namun berbakti dan menghormati dan memuliakan orang tua adalah yang kedua. Yang pertama adalah kepada Allah. Maka semua itu dikerjakan bila tidak bertentangan dengan ajaran Allah. “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada ibu serta bapakmu”.

4)     Sikap terhadap orang tua musyrik (Toleransi)

Ayat 15 surat Luqman telah menjelaskannya, jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan Akuatas sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Jadi, meskipun orang tua berlainan pendapat atau berlainan agama, anak sepatutnya tetap bergaul dengan beliau secara baik dalam batas tertentu. Artinya tetap taat perintahnya dalam urusan Agama.

5)     Balasan akhirat (Peringatan)

Dua keyakinan, yakni Allah dan Hari Akhir. Bila dua keyakinan itu telah tertanam dalam hati, maka yang lainnya telah tercakup. Karena kepercayaan kepada Allah harus mencakup para Rasul-Nya dan apa misi dari para Rasul itu. Akhirat mencakup segala kepercayaan gaib yang berhubungan dengan akibat dari amalan kita di dunia ini.

6)     Mendirikan Shalat

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (Q.S.Luqman: 17)

Shalat mengisyaratkan bahwa di dalamnya terkandung adanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Sebagai orang tua bila anak sudah berumur 9 tahun, maka orang tua berkewajiban memerintahkan  kepada anak kita agar shalat. Tanpa shalat, berarti segala amalan lainnya.

7)     Amar ma’ruf nahi munkar

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka)  dari perbuatan yang mungkar.” (Q. S. Luqman: 17). Amar ma’ruf nahi munkar adalah suatu amalan yang konstruktif dalam masyarakat, ajaran membangun masyarakat dan sebagai manifestasi dari rasa tanggung jawab   dalam masyarakat. Dorongan-dorongan untuk amar ma’aruf nahi munkar adalah mengharap pahala dari Allah, takut pada siksa jika tidak melakukannya, dan takut akan murka Allah bila larangan - larangan-Nya dilanggar.

8)     Bersifat sabar

Artinya: “........dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Q. S. Luqman: 17)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan dengan (bersikap) sabar dan (mengerjakan) sembahyang.” (QS. Al-Baqarah:153)

Arti dari kata sabar ialah tahan, yakni tahan uji. Itulah seberat-berat menahan rasa, karena kesabaran diperlukan dikala sulit dan lapang, dikala sakit dan sehat, dikala miskin dan kaya, dikala kalah dan menang, dikala gagal dan berhasil, dikala mujur dan malang, dikala sedih dan gembira, dan dalam semua sikap hidup.

9)      Tidak memiliki sifat sombong

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q. S. Luqman: 18). Dan Luqman menyentuh dalam nasehatnya adab cara beriteraksi sosial, karena berada dalam kehidupan bermasyarakat tidak boleh bersikap takabur dan angkuh. Berjalan dimuka bumi ini dengan sombong dan angkuh yaitu suatu gaya yang dibenci Allah dan dibenci pula oleh manusia. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Pendidikan" Karya Ki Hajar Dewantara

Bentuk dan Contoh Kompensasi Non Finansial

Program Studi Pendidikan Masyarakat