COVID-19 | Virus Corona | Sebab - Akibat | Penyebaran | Pencegahan | Vaksinasi
LATAR BELAKANG
Sudah berapa lamanya masyarakat global harus menghadapi sebuah
kenyataan bahwa kondisi dunia sejak akhir tahun 2019, dikatakan sedang tidak
baik-baik saja. Beberapa aktivitas pribadi maupun yang bersifat general menjadi
tertunda bahkan dibatalkan, keadaan ini juga membatasi ruang gerak masyarakat
terhadap kehidupan sosial yang dilakukan secara langsung di dunia nyata.
Menghabiskan lebih banyak waktu untuk beraktivitas di rumah saja, dan membuat
beberapa orang mengalami kemalasan berlebihan hingga tingkat depresi. Suatu
situasi yang tak pernah terbayangkan kini terulang kembali. Tidak hanya
mencakup wilayah desa, kota, atau satu negara itu saja, tetapi juga menjangkau
seluruh bagian di muka bumi. Hampir tidak ada orang yang tidak merasakan dampak
dan pengaruhnya, baik besar ataupun kecil.
Hal ini diakibatkan oleh salah satu jenis virus yang cukup
berbahaya, bernama virus corona atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah
menetapkan nama resminya yaitu Coronavirus Dissease 2019
(COVID-19). Sementara, Komite Internasional untuk Taksonomi Virus (ICTV) telah
memberikan nama resmi virus corona baru yang tengah mewabah di dunia yakni severe
acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). SARS-CoV-2 adalah
virus corona yang mengakibatkan infeksi pernapasan COVID-19. Jadi SARS-CoV-2
adalah nama virusnya, sedangkan Covid-19 ialah nama penyakitnya. Kasus
penularan Covid-19 pertama kali, terdeteksi pada awal Desember 2019 di kota
Wuhan, China. Kemudian, kasus Covid-19 juga ditemukan di belahan dunia lainnya,
termasuk negara Indonesia.
Sebelumnya, masyarakat dunia pernah mengalami situasi epidemi akibat
SARS coronavirus (SARS-CoV), virus yang diidentifikasi pada 2003.
Epidemi adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah
yang luas dan menimbulkan banyak korban. Peningkatan angka penyakit di atas
normal yang biasanya terjadi secara tiba-tiba pada populasi di suatu area
geografis tertentu. Saat itu, epidemi SARS menyebar hingga 26 negara dan
menginfeksi lebih dari 8.000 kasus pada tahun 2003. Sedangkan virus korona ini,
disebut sebagai adik dari SARS-CoV karena memiliki karakteristik yang hampir
sama, sehingga disebut SARS-CoV-2. Virus tersebut diberi nama berdasarkan
struktur genetiknya, dengan tujuan untuk memfasilitasi pengembangan tes
diagnostik, vaksin dan obat-obatan. Penyakit diberi nama supaya memungkinkan
diskusi terkait pencegahan, penyebaran, penularan, keparahan serta pengobatannya.
Dengan demikian, merebaknya wabah virus corona yang menjangkit
orang-orang secara serempak dan menular dari satu orang ke orang yang lain
dengan pergerakan yang cepat, serta meliputi daerah geografis yang luas inilah,
dunia dikatakan sedang menghadapi sebuah pandemi. Pandemi covid-19 merupakan
isu yang sangat memprihatinkan. Tercatat sejak tahun 2019 sampai sekarang (20
September 2021), terdapat 219 juta orang di dunia yang dinyatakan positif
corona, kasus meninggal dunia sebanyak 4,55 juta manusia. Sementara pada 14
September 2021, Indonesia menempatkan posisi keempat dengan kasus positif
Covid-19 terbanyak di dunia, yakni 4,17 juta kasus positif dan 140 ribu orang
yang meninggal dunia.
PENYEBARAN DAN PENULARAN VIRUS CORONA
Penyebaran virus corona ini sangatlah cepat dan tidak memandang usia, siapa pun dapat terpapar. Sehingga, kita perlu waspada dan selalu disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan serta menjaga pola hidup sehat. Virus ini bisa menular dari satu orang ke manusia lainnya secara langsung ataupun tidak langsung, dengan melalui :
1. Droplets / Sekresi
yaitu penularan virus covid-19 melalui tetesan atau cairan yang berasal dari batuk, bersin, berbicara, bernyanyi dan sebagainya. Orang-orang yang berada dalam jarak dekat (yaitu sekitar 1 meter) dengan orang yang terinfeksi dapat terpapar COVID-19 ketika percikan infeksius masuk ke mulut, hidung atau mata mereka.
2. Menyentuh benda yang telah terkontaminasi
Orang dengan virus di hidung ataupun tenggorokan memungkinkan meninggalkan droplet yang dapat menginfeksi pada benda dan permukaan (disebut fomit) ketika mereka batuk, bersin, atau menyentuh permukaan, seperti gagang pintu, meja, pegangan escalator, tombol lift, dan lain-lain. Jika seseorang menyentuh benda atau permukaan tersebut, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut mereka sebelum membersihkan tangan, maka orang itu dapat terinfeksi.
3. Kontak fisik dengan orang yang terinfeksi
seperti menyentuh dan berjabat tangan dapat menularkan virus corona. Penanganan medis yang salah dan tidak sesuai prosedur juga memiliki peluang lebih besar tertular pasiennya yang teridentifikasi positif covid-19.
4. Melalui udara di tempat tertutup dan berdesakan
Penyebaran
virus corona dapat terjadi di beberapa tempat tertutup, seperti restoran, klub malam,
tempat ibadah, atau tempat kerja, dimana seseorang mungkin berteriak,
berbicara, atau bernyanyi di sana. Dalam wabah ini, khususnya di lokasi dalam
ruangan yakni tempat orang yang terinfeksi menghabiskan waktu lama, penuh sesak,
dan ventilasinya yang tidak memadai.
PENCEGAHAN DAN CARA MEMUTUS RANTAI
PENYEBARAN
Ada beberapa cara yang dianjurkan WHO maupun pemerintah dalam upaya pencegahan penularan virus corona serta memutus rantai penyebaran covid-19, antara lain :
1) Memakai masker dengan benar dan sesuai prosedur,
2) Menjaga jarak, setidaknya satu meter dengan orang lain,
3) Mencuci tangan menggunakan sabun sampai ke sela-sela jari,
4) Hindari kerumunan/ tempat ramai, dan tertutup,
5) Batasi kontak erat dengan pasien positif covid-19,
6) Petugas Kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD),
7) Hindari menyentuh benda-benda di tempat umum,
8) Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan kotor,
9) Di rumah saja (stay at home), keluar rumah jika ada keperluan penting dan mendesak,
10) Belajar dan bekerja secara daring di rumah masing-masing,
11) Penyemprotan cairan disinfektan di tempat umum dan transportasi umum,
12) Memakai hand sanitizer, jika tidak terdapat air dan sabun untuk mencuci tangan,
13) Segera mencuci pakaian sehabis dipakai dari luar,
14) Rajin menjaga kebersihan lingkungan, khususnya rumah dan kamar sendiri,
15) Menjaga pola hidup sehat, makan makanan bergizi, berolahraga, dan istirahat secukupnya,
16) Mengecek hasil rapid test, PCR, atau swab antigen Ketika melakukan perjalanan,
17) Menerima vaksinasi atau vaksin untuk menambah sistem imunitas tubuh
IDENTIFIKASI ORANG YANG TERPAPAR
COVID-19
Seseorang yang telah teridentifikasi sebagai pasien positif covid-19
dapat menyebarkan virus ke orang lain, baik saat mengalami gejala ataupun tanpa
mengalami gejala. Oleh karena itu, penting agar semua orang yang terinfeksi
diidentifikasi dengan tes, diisolasi, dan menerima perawatan medis sesuai
tingkat keparahan penyakitnya. Bahkan, orang yang dikonfirmasi memiliki Riwayat
Covid-19, tetapi yang tidak memiliki gejala harus diisolasi untuk membatasi
kontak dengan orang lain. Langkah - langkah ini bertujuan untuk memutus rantai
penularan.
Hal tersebut diperlukan dalam membuat data laboratorium yang menunjukkan
bahwa kemungkinan terbesar orang menyebarkan penularan adalah ketika mulai mengalami
gejala. Oleh karena itu, dalam pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
investigasi kasus dan penelusuran kontak, direkomendasikan bahwa seseorang
dianggap sebagai 'kontak' jika orang tersebut telah melakukan kontak dengan
orang yang terinfeksi sejak dua hari sebelum orang yang terinfeksi tersebut
mengalami gejala.
Berikut beberapa gejala positif Covid-19, yaitu :
1) Demam
2) Batuk dan pilek
3) Letih dan lesu
4) Sakit tenggorokan
5) Sakit kepala dan sulit berkonsentrasi
6) Nyeri sendi / nyeri otot / nyeri dada
7) Hilang indera penciuman (anosmia)
8) Gangguan (sesak) pernapasan
9) Beberapa pasien mengalami masalah pencernaan, seperti mual dan diare
UPAYA PENYEMBUHAN
Fase atau tahap penyembuhan covid-19 berbeda-beda pada tiap pasien.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti tingkat keparahan gejala serta
Riwayat penyakit tertentu. Bagi pasien covid-19 yang gelaja ringan, biasanya
proses pemulihan berlangsung dengan cepat. Pada kondisi pasien yang mengalami
gejala atau efek yang sangat parah, seperti harus menggunakan ventilator atau
perawatan intensif, durasi penyembuhan sekitar 30 sampai 40 hari. Rata-rata
pasien covid-19 membutuhkan waktu rawat-inap selama 7 sampai 14 hari.
Kita perlu ketahui bahwasanya sampai saat ini belum ada obat yang
mampu menyembuhkan pasien yang positif covid-19. Namun, sesungguhnya virus
corona ini tidak terlalu bahaya seperti virus yang ada sebelumnya. Jika kita
memiliki daya tahan atau imunitas tubuh yang baik, maka virus ini tidak akan
mampu berkembang di dalam tubuh kita. Akan tetapi, lain halnya bila seseorang
memiliki riwayat penyakit lain, seperti diabetes, kolesterol, hipertensi,
kanker, dan sebagainya. Virus corona ini akan berbahaya, bahkan bisa
menyebabkan kematian.
Penanganan pasien positif covid-19 tentunya setiap orang berbeda-beda berdasarkan gejala dan tingkat keparahannya. Seseorang yang positif covid-19 tetapi hanya mengalami gejala ringan bahkan tidak mengalami gejala, maka orang tersebut diperbolehkan melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Ruangan isolasi harus terdapat ventilasi dan cahaya yang baik serta pertukaran udara yang cukup. Selain itu, ruangan isolasi pun wajib dibersihkan setiap hari menggunakan air sabun atau desinfektan. Selama isolasi mandiri ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:
1) Menjaga pola hidup sehat, seperti banyak minur air mineral, vitamin, dan makan makanan bergizi
2) Menjaga kebersihan badan dan lingkungan sekitar, seperti selalu mencuci tangan
3) Istirahat yang cukup untuk meningkatkan imunitas tubuh
4) Tetap di dalam rumah dan kamar, jangan keluar rumah
5) Menjaga jarak dengan orang dalam satu rumah
6) Selalu gunakan masker, apabila keluar kamar agar anggota keluarga yang lain tidak tertular
7) Lakukan isolasi mandiri selama kurang lebih dua minggu
8) Jika mengalami gejala yang memburuk, maka segera hubungi dokter
Berdasarkan penelitian, pasien dengan gejala ringan dapat sembuh selama dua minggu menjalani isolasi mandiri. Namun, sebelum kembali memulai aktivitas seperti biasanya, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan bahwa dirinya sudah memenuhi kriteria sembuh dari covid-19. Selain gejala ringan, terdapat pasien positif corona yang mengalami gejala berat. Sebaiknya, pasien tersebut menjalani perawatan dan karantina di rumah sakit rujukan. Berikut adalah beberapa upaya penyembuhan oleh tim medis, antara lain :
1) Memberikan obat yang dapat mengurangi keluhan atau efek dari virus covid-19
2) Memasang ventilator atau alat bantu pernapasan
3) Memberikan terapi plasma konvalesen
4) Memberikan obat pengencer darah dan pencegah penggumpalan darah
5) Memberikan infus cairan supaya tidak dehidrasi
6) Memberikan obat imunosupresif, seperti tocilizumab (actemra)
Penelitian untuk mencari metode pengobatan yang efektif dalam
mengatasi penyakit COVID-19 masih terus dilakukan. Beberapa jenis obat yang
diteliti untuk mengatasi COVID-19 adalah remdesivir, lopinavir-ritonavir, dan
favipiravir. Selain itu, obat ivermectin yang dianggap beberapa pihak ampuh
dalam mengobati penyakit akibat covid-19, hingga saat ini belum terbukti
efektif dan masih terus diteliti.
DAMPAK PANDEMI COVID-19
1.
Di bidang ekonomi
Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama satu tahun telah
berdampak banyak di sektor kehidupan, terutama di sektor ekonomi. Berbagai
kalangan masyarakat terdampak oleh pandemi, termasuk kalangan penyandang
disabilitas.
Upaya pemerintah : Pemerintah telah meluncurkan berbagai program
jaring pengaman sosial untuk memulihkan perekonomian masyarakat, seperti
bantuan modal usaha, serta pelatihan keterampilan usaha. Salah satu yang
menjadi sasaran dalam program ini adalah penyandang disabilitas. Koordinator
Bidang Pemberdayaan Disabilitas Kemenko PMK Erlia Rahmawati menjelaskan,
program dukungan pemerintah telah memberikan dampak positif terhadap UMKM dan
sektor informal yang digeluti penyandang disabilitas selama masa pandemi
Covid-19.
2.
Di bidang sosial-budaya
Secara sosiologis, pandemi Covid-19 telah menyebabkan perubahan
sosial yang tidak direncanakan. Artinya, perubahan sosial yang terjadi secara
sporadis dan tidak dikehendaki kehadirannya oleh masyarakat. Akibatnya,
ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi pandemi ini pada gilirannya telah
menyebabkan disorganisasi sosial di segala aspek kehidupan masyarakat.
3.
Di bidang Pendidikan
Setidaknya, terdapat tiga potensi dampak sosial negatif
berkepanjangan yang mengancam peserta didik akibat efek pandemi COVID-19.
Ketiga dampak tersebut seperti putus sekolah, penurunan capaian belajar, serta
kekerasan pada anak dan risiko eksternal.
4.
Di bidang Kesehatan
Sudah jelas bahwa pandemic covid-19 membawa dampak buruk bagi Kesehatan
setiap individu. Bahkan seseorang bisa kehilangan nyawanya akibat terpapar oleh
virus corona.
5.
Di bidang politik
Pandemi Covid-19 juga mengancam keamanan manusia. Walau bergerak di
sektor keamanan kesehatan, dampaknya bisa meluas hingga mengancam keamanan
politik. Dampak nyata ancaman pandemi bagi stabilitas negara adalah munculnya
ketidakpercayaan publik terhadap negara. Kondisi ini dapat mengikis keseluruhan
legitimasi pemerintahan.
6.
Di bidang psikologis
Banyak
orang menjadi sedikit lebih cemas selama Covid-19. Kehilangan pekerjaan dan
kesulitan finansial selama penurunan ekonomi global juga dikaitkan dengan
penurunan kesehatan mental yang berkepanjangan. Kesepian kronis yang disebabkan
oleh isolasi sosial atau perasaan "kurangnya makna" dalam hidup
selama pandemi adalah masalah utama lainnya. Beberapa orang tiba-tiba
terjauhkan dari hubungan dekat pada era menjaga jarak sosial dan mungkin merasa
sulit untuk membangunnya kembali.
VAKSINASI
Vaksin bekerja dengan cara meniru agen penyakit—baik berupa virus,
bakteri, maupun mikroorganisme lain yang bisa menyebabkan penyakit. Dengan
meniru, vaksin ‘mengajarkan’ sistem kekebalan tubuh kita untuk secara spesifik
bereaksi dengan cepat dan efektif melawan agen penyakit. meskipun pengembangan
vaksin COVID-19 diupayakan berjalan secepat mungkin, vaksin tetap harus melalui
serangkaian uji klinis yang ketat untuk membuktikan kesesuaiannya dengan
standar internasional dalam hal keamanan dan efektivitas vaksin. Semua vaksin
yang disetujui oleh WHO telah terbukti aman dan efektif dalam melindungi
penerimanya terhadap sakit berat yang ditimbulkan oleh COVID-19.
Mengingat keterbatasan kapasitas produksi vaksin pada tahun 2021,
sehingga kebutuhan global tidak dapat terpenuhi seluruhnya, maka tidak semua
orang dapat menerima vaksin pada waktu yang sama. Setiap negara harus
mengidentifikasi populasi prioritas, yang menurut rekomendasi WHO adalah tenaga
kesehatan di garis depan (dalam rangka melindungi sistem kesehatan) dan
kelompok lain yang berisiko tinggi mengalami kematian akibat COVID-19, seperti
lansia, tim medis, guru-guru, dan pekerja sosial juga perlu diutamakan, diikuti
dengan kelompok-kelompok lainnya sesuai dengan perkembangan ketersediaan dosis
vaksin.
Hanya sedikit kondisi dimana seseorang sebaiknya tidak menerima vaksin, yaitu:
1. Orang dengan riwayat reaksi alergi berat terhadap kandungan vaksin COVID-19
2. Orang yang sedang sakit atau sedang mengalami gejala COVID-19 (vaksinasi dapat dilakukan setelah sembuh dan dengan persetujuan dokter).
KESIMPULAN
Dengan demikian, pandemi covid-19 merupakan suatu kondisi dimana
menimbulkan dampak buruk di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, kita
sebagai manusia yang berakal sudah seharusnya kita menerapkan protokol Kesehatan
dan mematuhi kebijakan pemerintah, demi memutus rantai penyebaran serta
mengakhiri pandemi ini. Selain itu, hal penting lainnya ialah jangan takut atau
khawatir untuk vaksin, karena vaksin seperti Sinovac ataupun Astrazeneca, dan
sebagainya yang dinyatakan aman oleh WHO dan UNICEF dapat digunakan dengan tujuan
untuk meningkatkan imunitas tubuh agar tidak mudah terpapar virus covid-19. Kami
berharap pandemi covid-19 segera berakhir dan kami bisa menjalani aktivitas
seperti sediakala.
DAFTAR PUSTAKA / SUMBER REFERENSI
https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa/qa-how-is-covid-19-transmitted
https://www.alodokter.com/covid-19
https://www.unicef.org/indonesia/id/coronavirus/hal-hal-penting-seputar-vaksin-covid-19
author : Kayla Hanun
Komentar
Posting Komentar