10 HAL SEPELE YANG BISA BIKIN HIDUP LO BERUBAH 180°

Mungkin dari kita ada yang merasa hidup ini kok berasa stagnan ya? Membosankan? Atau mungkin merasa ada yang salah dari cara kita menjalani kehidupan?

Sini gue kasi tau kebiasaan-kebiasaan gak sadar yang mungkin related sama lo. Mungkin satu dari 10 hal sepele ini bisa lo lakuin dan efektif untuk mengubah hidup lo jadi lebih bermakna. Check it out!

Stop Main HP saat sedang Makan

Pertama, lo sadar gak kalau benda kotak serba guna alias gawai yang hampir setiap waktu kita pegang itu bikin manusia-manusia jadi candu? Ponsel pintar ini memang paling jago bikin kita lupa waktu. Kalau lo peka, coba sesekali perhatikan sekeliling lo ke orang-orang yang sedang makan di kantin, kafe, atau rumah makan. Apa yang lo saksikan? Adakah dari mereka yang sibuk main handphone sembari menyantap makanannya? Bukan ada saja, tapi cukup banyak kan bro..

Dan mungkin tanpa kita sadari kalau ternyata tak jarang juga kita melakukan hal yang sama. Namun, sah-sah saja gak sih main HP saat sedang makan? Mungkin sekilas tidak ada yang salah, berkirim pesan, menonton konten, membaca artikel, atau bermain game selama makan, ya yang penting makanannya abis, gitu kan bro? No, it’s big wrong! Ini tuh kebiasaan buruk yang bisa bikin lo jadi gagal fokus dan berpotensi menyebabkan obesitas.

Yap gue gak asal ngomong, ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan oleh Trends in Food Science & Technology. Nyatanya, bermain HP selagi makan akan mengganggu konsentrasi otak dalam mengirimkan sinyal “kenyang” ke perut. Akibatnya orang itu kesulitan menyadari dan mengatur jumlah makanan yang sedang dikonsumsi.

Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa bermain gadget saat makan, dapat menyebabkan peningkatan asupan kalori sebab tubuh kita cenderung kurang akurat dalam memperkirakan jumlah makanan yang dikonsumsi, sehingga beresiko obesitas alias kelebihan berat badan.

Lagian ya bro, memangnya makan itu butuh waktu berapa lama sih? Paling tidak, 10-20 menit pun sudah beres kan.. Lalu, apa salahnya kita tahan diri sejenak untuk tidak asik bermain HP dulu selama makan? Akan lebih nikmat bro, jika kita menghargai setiap suapan yang kita makan.

Selain itu, kebiasaan main HP saat sedang makan juga bisa buat lo jadi lelet alias lama selesai makannya. Belum lagi, bisa saja saat mata fokus tertuju ke layar ponsel sedang tangan menyendok makanan, khawatir ada benda tajam, kotoran, atau hewan yang tidak sengaja tertelan. Kemungkinan terburuknya, bisa jadi tersedak dan kesulitan bernafas atau bahkan terjadi masalah dalam sistem pencernaan.

Stop Selalu Bilang “Iya” Hanya Karena Tidak Enakan

Kedua, buat lo kaum-kaum people pleaser, please stop mengorbankan diri lo demi berusaha menyenangkan orang lain. Lo harus sadar, lo gak bisa bikin semua orang bahagia. And it’s okay, untuk mendahulukan kebahagiaan diri sendiri dulu kemudian kebahagiaan orang lain.

Tapi gue setuju, gak ada yang salah dari keinginan untuk membahagiakan orang lain, dan gue gak mau judge lo yang merasa kebahagiaannya terletak pada kebahagiaan orang-orang yang lo sayangi. That’s fine, itu artinya lo orang yang baik. Namun, lo juga harus paham kalau setiap manusia itu tidaklah sempurna, kita punya batasan kapasitas dan punya kekurangan.

So, sangat wajar kalau kadangkala realita tidak sesuai yang kita ekspektasikan. Dan wajar saja kita punya kapasitas tidak bisa mengontrol respon setiap individu yang berinteraksi dengan kita. Tidak masalah jika orang lain ternyata kesal, kecewa, atau bahkan marah kepada kita. Asalkan kita tidak melakukan kejahatan atau perilaku-perilaku yang merugikan orang tersebut, maka tidak ada salahnya kita menolak permintaan orang lain apalagi sampai harus mengorbankan kebahagiaan diri sendiri.

Kalau ada yang memerintah atau meminta lo melakukan sesuatu dan lo memang gak suka, lo gak nyaman, atau lo merasa itu gak penting, lo ga sanggup, atau lo punya prioritas lain, pastikan lo menolaknya dengan tegas dan komunikasikan baik-baik alasannya ke orang tersebut. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan untuk mengiyakan dan menyanggupi perintah atau permintaan orang lain tanpa berpikir terlebih dahulu mengenai perasaan lo dan dampak kedepannya.

Stop Overactive Menyibukkan Diri

Ketiga, ya memang benar menyibukkan diri melakukan aktivitas atau mengikuti kegiatan-kegiatan positif bisa bikin kita jadi produktif. Ini adalah hal yang baik ketimbang diri lo jadi seseorang yang pemalas dan menjadi benalu untuk orang lain alias tidak mandiri. Tapi sadar atau tidak, nyatanya produktivitas memiliki dark side atau sisi gelap. Pasalnya, orang-orang yang terlalu sibuk dan berlebihan melakukan banyak hal sekaligus tak jarang ada hal-hal lain yang mereka korbankan.

Tentu utamanya mengorbankan waktu. Terlalu sibuk bekerja, belajar, atau berkegiatan di luar memungkinkan hubungan lo dengan orang-orang tersayang menjadi renggang. Misalnya, ketika weekend yang seharusnya lo menghabiskan waktu berlibur, bertamasya, atau sekadar berkumpul bersama keluarga di rumah, malah lo korbankan demi menyelesaikan target pekerjaan atau sibuk belajar menjelang ujian sampai lupa waktu.

Okay mungkin ini akan menimbulkan kontra buat kalian yang memang mau tidak mau harus bekerja di waktu weekend karena tuntutan perusahaan. I feel you pejuang rupiah, but at least sepulang ngantor atau saat makan malam atau 5 menit sebelum tidur, lo bisa luangkan sedikit waktu untuk berbincang dengan your family atau kekasih lo. Pastikan kalian menikmati momen hangat itu tanpa gangguan apapun, sebentar saja setiap harinya.

Selain bisa merusak hubungan sosial lo, overactive menyibukkan diri juga bisa buat lo mengorbankan waktu istirahat. Sesibuk-sibuknya lo, jangan sampai merusak jam tidur lo. Jika ini dibiarkan, dampak jangka panjangnya itu lo berpotensi terserang penyakit. Tubuh lo perlu istirahat yang cukup, kasian lah dengan fisik lo yang seringkali diforsir habis-habisan untuk bekerja, belajar, dan berkegiatan hingga telat makan, kurang minum, dan kurang tidur sampai kelelahan, maag kambuh, atau dehidrasi.

Tak hanya mengorbankan waktu, overactive ini juga bisa sangat menguras pikiran dan tenaga. Karena terlalu sibuk, adanya tekanan dan tuntutan dari eksternal, lo berpotensi mengalami stres dan depresi. Boleh produktif asalkan kalian tetap aware dengan kesehatan, baik fisik maupun mental. Sebab nikmat sehat adalah hal paling krusial, sehat itu harganya sangat mahal. Kalau sakit, maka kedepannya jadi tidak bisa produktif lagi, jika lo sakit maka orang yang sayang sama lo akan sedih, dan kalau lo sakit maka siap-siap kehilangan banyak uang untuk berobat.

Jadi, buat kalian yang sangat ambisius mengejar kesuksesan, coba sesekali kalian renungkan sejenak, siapkah kalian mengorbankan hal-hal berharga tersebut? Cobalah agar sedikit lebih pelankan tempo produktivitas lo, mulai aware dengan kesehatan dan hubungan sosial lo, juga coba untuk calm down agar dapat merasakan kehidupan yang lebih bermakna. Sebab kesuksesan bukan kunci dari kebahagiaan dan uang bukan segalanya. Tapi hidup bahagia sesungguhnya memang perlu uang. So, keep Work-life balance ya!

Stop Kepo dan Mengurusi Hidup Orang Lain

Keempat, penting buat lo mengubah kebiasaan jelek yang satu ini. Berhenti buang-buang waktu lo untuk mencari tahu tentang kehidupan orang lain hanya karena penasaran. Apalagi sampai sibuk mencampuri urusan rumah tangga tetangga. Hidup itu gak luput dari masalah bro, dan setiap orang punya masalahnya masing-masing, termasuk diri lo! Mulai dari masalah keluarga, pertemanan, percintaan, finansial, hingga permasalahan sepele lainnya.

Jadi, daripada lo kepo tentang drama asmara teman lo di kampus, lo gibah tentang isu miring bos lo yang dikabarkan selingkuh dari istrinya, lo mengomentari kawan lo yang baru saja putus cinta, atau lo mengompor-ngompori keributan pertemanan dalam circle lo, lebih baik lo spend waktu, pikiran, dan tenaga lo lebih banyak untuk fokus menyelesaikan masalah yang lo punya.

Tapi lo lagi gak punya masalah? Justru bagus dong, hiduplah dengan tenang dan damai tanpa punya masalah dan tanpa mencampuri masalah orang lain. Artinya lo punya kesempatan untuk me-release pikiran lo yang jenuh.

Selain itu, dengan lo gak lagi-lagi kepoin kehidupan privasi orang lain maka ini bisa menjaga kesehatan mental lo biar tetap stabil. Misalnya, lo stalking medsos mantan lo karena belum bisa move on dan lo penasaran dengar dari orang lain kalau mantan lo sudah punya pacar baru. Ini bahaya, bisa menimbulkan penyakit hati dan ganggu mental lo, seperti lo jadi merasa sedih berlebihan, jadi cemburu dan kesal, atau bahkan bisa bikin lo depresi dan frustasi seakan dunia akan hancur tanpanya.

Karena memang ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu kita ketahui dan cari tahu. Serta tidak ada salahnya kita membatasi diri untuk tidak terlibat dalam urusan orang lain, khawatir lo bisa terseret masalah karenanya. Satu hal lagi, usahakan selalu kontrol emosi agar tidak ikut terbawa ke dalam urusan orang lain.

Misalnya, ketika ada teman curhat ke lo tentang pasangannya yang selingkuh. Sebenarnya tidak masalah mendengarkan keluh kesah teman lo itu. Tapi sebisa mungkin lo gak usah banyak berkomentar dan ikut emosi berlebihan, seperti jadi mencaci maki orang yang dibicarakan, men-judge temen lo karena gak mendengarkan kata-kata/ nasihat lo sebelumnya, atau bahkan memprovokasi hal negatif seperti “yaudah lo selingkuhin balik aja” atau “ayok gue temenin, kapan lo siap nampar tu buaya?” dan ungkapan-ungkapan balas dendam lainnya. Cukup lo dengerin, tenangin, dan support teman lo biar happy lagi.

Stop Memaksakan Diri Menjadi Seperti Orang Lain

Kelima, ini berkaitan dengan insecurity atau ketidak-percayaan diri seseorang, tentang self-love yang minim, dan heartburning atau kecemburuan terhadap pencapaian orang lain. Hal pertama yang harus lo tahu adalah setiap orang punya keunikannya masing-masing, gak ada seorang pun yang bisa meniru diri lo 100% dan begitupun sebaliknya. Jadi, jangan paksakan diri lo untuk menjadi orang lain hanya karena lo merasa bahwa dia terlihat lebih sempurna.

Hal kedua yang perlu lo sadari adalah bahwa diri lo itu berharga, lo unik, dan lo punya keunggulan tersendiri. Walaupun lo gak sempurna dan punya kekurangan, tapi itulah ciri khas yang membedakan diri lo dengan orang lain. Meskipun diri lo gak sepopuler dia, gak secantik atau seganteng dia, gak sepintar dia, dan gak sesukses orang lain, tapi bukan berarti lo gak bisa bahagia.

Apabila lo cemburu dengan pencapaian orang lain, lo kesal dan benci diri sendiri sebab orang lain saja bisa sedangkan diri lo gagal dan gak bisa mendapatkan hal yang sama, maka berhentilah membanding-bandingkan diri lo dengan orang lain dan stop menyalahkan diri sendiri.

Bilamana ada orang yang membanding-bandingkan diri lo dengan orang lain, daripada berdebat lebih baik hindari jauh-jauh orang tersebut, atau jangan pusing ambil hati atas perkataannya. Ketimbang lo maksain diri buat jadi seperti orang lain, akan lebih baik jika lo fokus mengenali diri sendiri, mengembangkan potensi yang lo punya, dan perbaiki pelan-pelan kekurangan diri lo.

Misalnya, kakak lo terlihat keren karena berhasil menjuarai lomba karya ilmiah, dia selalu mendapatkan peringkat 1 di sekolahnya, bahkan dia punya banyak fans laki-laki sebab kecantikan dan keanggunannya. Sedangkan lo punya perawakan wanita tomboy, galak, dan gak pinter. Tidak jarang orang tua membanding-bandingkan diri lo dengan kakak lo, atau kadangkala lo jadi bahan omongan saudara dan tetangga.

Don’t worry! Lo gak perlu mengubah diri lo untuk menjadi seperti kakak lo. Mungkin memang benar lo gak pandai di bidang akademik, tapi bisa jadi lo punya keunggulan di bidang seni atau olahraga. Kenali diri lo, kalau suka melukis, fokuslah berlatih agar karya-karya lo bisa menjadi masterpiece. Atau kalau lo senang olahraga basketball, maka latihlah dengan giat agar suatu saat lo bisa buktiin kalau lo bisa sukses jadi atlet kebanggaan nasional.

Hidup lo juga bisa tenang dan bahagia dengan gak punya fans laki-laki seperti kakak lo, yang mungkin saja bisa mengusik kenyamanan hidup lo. Dan kalau memang lo itu galak dan tidak pandai berkomunikasi seperti kakak lo yang anggun dan ramah. Maka, lo bisa perbaiki kekurangan itu dengan cara membiasakan diri untuk murah senyum dan menyapa orang lain, berlatih untuk bicara dengan bahasa yang baik dan tidak kasar, serta berusaha mengontrol emosi agar tidak mudah marah.

Stop Memaksakan Gaya Hidup Demi Flexing

Keenam, di dunia yang penuh tipu-tipu ini banyak orang berlomba-lomba tampil lebih baik dengan memamerkan kekayaan, penampilan, status, pencapaian, dan update keseharian ke orang lain, baik secara langsung ataupun melalui media sosial. Tak jarang anak muda zaman sekarang hingga orang tua paruh baya sekalipun mencoba membangun citra atau image yang keren di depan publik. Mungkin haus akan pujian, butuh pengakuan atau narsistik, ingin jadi pusat perhatian atau caper, ingin membuat orang lain menjadi iri, dan mungkin merasa bangga atau overproud dengan cara flexing.

Sebenarnya tidak salah jika kita berusaha membangun image yang baik, namun yang salah jika flexing berlebihan, sampai memaksakan diri untuk memenuhi gaya hidup yang tidak sesuai keadaan, juga tidak mengenal batasan waktu dan segalanya dipamerkan tanpa berpikir dampak jangka panjang ke depannya.

Misalnya, yang sedang tren saat ini adalah konten di media sosial yang memperlihatkan gaya hidupnya di depan publik dengan realita profesi atau pekerjaannya. Padahal bisa jadi penghasilannya tidak sebanding dengan gaya hidupnya, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya yang hedonis.

Walaupun itu hanyalah konten yang mana bisa jadi untuk seru-seruan saja, namun di luar konten tersebut nyatanya memang tak sedikit orang-orang yang memaksakan gaya hidupnya demi flexing. Misalnya, seseorang menggunakan uang pinjaman untuk berfoya-foya, atau tega menipu orang lain demi bisa jalan-jalan ke luar negeri dan menginap di hotel yang mewah, atau rela menjual dirinya demi bisa selalu exist membeli barang-barang mewah, yang mana itu semua ujung-ujungnya untuk dipamerkan.

Padahal hal itu bisa merugikan diri lo sendiri bahkan orang lain, seperti terlilit hutang, hilangnya harga diri, menimbulkan kecemburuan sosial, dan sebagainya. Jadi, buat lo yang gila konten flexing, buat lo yang suka pamer, mending segera tobat ya guys! Alangkah baiknya jika kita hidup sederhana namun tentram dan bahagia...

Stop Menghamburkan Uang dengan Alasan Self-Reward

Ketujuh, self reward adalah hal yang baik, cara untuk menghargai diri lo sendiri setelah melakukan usaha tertentu atau memperoleh suatu pencapaian. Ini bisa dilakukan dengan cara pergi berlibur untuk healing dan bersenang-senang setelah bersusah payah, bisa juga dengan cara me-time atau menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai sebagai refreshing agar tidak jenuh lagi, atau dengan cara membeli makanan favorit dan membeli barang-barang yang diinginkan.

Akan tetapi, sebagian dari kita mungkin pernah tanpa sadar boros uang untuk membeli hal-hal tidak penting dan berselimut dibalik kata self-reward. Boleh sesekali kita membelanjakan uang kita untuk mengapresiasi dan membahagiakan diri sendiri. Tapi usahakan agar selalu bijak dalam mengelola keuangan.

Contoh tidak baiknya seperti khilaf saat pergi berbelanja dan memanjakan diri, misalnya menghamburkan tabungan untuk nyalon, spa dan facial kecantikan, lalu membeli pakaian dan tas yang padahal sudah punya banyak di rumah.

Stop Membaca/ Menonton Konten Self Development Tanpa Aksi

Kedelapan, kecanggihan teknologi memudahkan kita mengakses berbagai informasi di social media. Sering kali kita menemukan konten-konten artikel atau video yang membahas tentang tips atau cara-cara untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri. Namun, pecandu self development tidak menjamin lo bisa sukses, tentu saja jika hal ini tidak lo barengi dengan aksi.

Percuma lo mengetahui secara teori mengenai pengendalian emosi, cara meningkatkan skill komunikasi, tips memperbaiki pola hidup, cara berinteraksi dengan orang lain, membangun sikap kepemimpinan, dan lain sebagainya jika lo tidak mengaplikasikannya ke dalam kehidupan.

Jadi, misalnya lo habis membaca buku berjudul “Filosofi Teras”, maka hal selanjutnya yang perlu lo lakukan adalah berlatih untuk mengelola emosi negatif dengan tidak mudah cemas, overthinking, dan baper (bawa perasaan) jika ada sesuatu atau seseorang yang mengusik lo, agar lo bisa menjalani kehidupan yang selaras dengan alam, yaitu hidup dalam ketenangan dan terbebas dari emosi negatif seperti apa yang diajarkan dalam buku tersebut.

Stop Menuruti Ego Orang Lain Hanya Karena Sayang

Kesembilan, bagaimana pun lo harus belajar untuk bisa mengendalikan pikiran alam bawah sadar lo dengan nalar dan logika. Jangan sampai emosi dan perasaan berperan penuh saat lo mengambil keputusan, tanpa mempertimbangkan baik buruknya.

Apakah lo pernah menyaksikan seseorang yang sedang jatuh cinta? Apa pandangan lo tentangnya? Ya, mungkin lo akan melihat tingkah bodohnya yang rela melakukan apapun demi kekasihnya itu. Pastikan bahwa lo bukan jadi salah satunya!

Apabila orang yang lo sayang, baik itu keluarga, teman, atau pasangan, membuat perintah atau permintaan gak masuk akal kepada lo, maka tolaklah dengan tegas dan komunikasikan secara baik-baik. Jangan sampai lo turuti kemauannya jika ternyata itu bisa merugikan diri lo sendiri, dari segi manapun. Apabila orang tersebut menunjukkan kekecewaan atau marah meskipun lo sudah minta maaf dan jelasin alasannya, maka lo patut pertanyakan ketulusannya, apakah benar dia juga sayang sama lo?

Misalnya, pasangan lo gak suka dan merasa malu kalau lo jemput dengan sepeda motor, dia mau lo punya mobil padahal tabungan lo belum cukup untuk membelinya. Karena lo takut dia akan pergi meninggalkan lo, akhirnya lo terpaksa berhutang atau mengambil cicilan kredit untuk bisa menjemput dia dengan mobil pribadi. Ini adalah perbuatan yang keliru yang bisa bikin lo menyesal di kemudian hari. Hidup lo bisa jadi tidak tenang sebab dikejar-kejar rentenir akibat tidak mampu membayar cicilan.

Stop Menormalisasikan Kecurangan dan Kebohongan

Kesepuluh, penutup kali ini mungkin bisa memicu perdebatan. Pasalnya, perbuatan curang dan berbohong cukup related dengan keseharian kita. Tanpa sadar mungkin ini sudah menjadi kebiasaan karena menganggap curang dan bohong bukanlah suatu kejahatan.

Walaupun begitu, setiap kebohongan-kebohongan kecil akan membawa kita pada kebohongan lainnya dan bahkan bisa lebih besar. Ini bisa menyebabkan lo terkena masalah, misalnya kehilangan kepercayaan orang lain.

Perilaku curang juga sering terjadi di bangku pendidikan. Dimana murid-murid menormalisasikan perilaku curang seperti mencontek selama ujian sekolah berlangsung. Tentu, hal ini bisa mengakibatkan lo tersandung kasus. Apalagi ini tidak sesuai dengan ajaran agama yang melarang kita untuk berbohong dan curang.

Selain itu, kedua kebiasaan buruk ini jika dibiarkan dilakukan oleh generasi penerus bangsa, maka akan mungkin bagi mereka menjadi cikal bakal pelaku gratifikasi dan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Misalnya, menerima suap akibat terbiasa menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.

Kesimpulan

Dengan demikianlah 10 hal-hal sepele yang mungkin tanpa sadar sudah menjadi kebiasaan buruk lo selama ini. Ternyata, hal-hal yang kita anggap remeh seperti itu jika kita menyadari dampak negatifnya dan kemudian kita evaluasi, bisa mengubah hidup kita 180° dan memperbaiki hidup menjadi lebih berkualitas dan bermakna.

So, dari kesepuluh hal tersebut, mana saja yang related sama lo dan mau lo perbaiki kedepannya? Coba komentar di bawah ya!

Terima kasih sudah membacanya, semoga bermanfaat. Salam literasi! Ditulis oleh: Kayla

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Pendidikan" Karya Ki Hajar Dewantara

Bentuk dan Contoh Kompensasi Non Finansial

Program Studi Pendidikan Masyarakat