LAKUKAN 6 DETOX INI AGAR HIDUP LO LEBIH BERKUALITAS

Apa yang ada dibenak lo ketika bicara soal hidup berkualitas? Menurut lo, apakah saat ini hidup lo sudah berkualitas? Lalu, seberapa peduli lo untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas hidup lo?

Hidup berkualitas adalah tata cara individu dalam menjalani kesehariannya agar sejahtera secara fisik maupun psikis. Sederhananya, seseorang yang hidupnya berkualitas cenderung ditandai dengan memiliki tubuh yang sehat, mental health yang terjaga, kondisi ekonomi yang stabil, dan hubungan sosial yang harmonis.

Namun sayangnya, untuk memiliki hal-hal tersebut tentu bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan. Diperlukan proses, waktu, dan konsistensi yang tidak instan. Terlebih lagi, dalam prosesnya memungkinkan kita mengubah kebiasaan-kebiasaan lama, dan beralih ke pembentukkan habbit yang baru. Ini bisa kita sebut sebagai detox!

Detox yang dimaksud adalah upaya menerapkan pola hidup berkualitas dengan cara mengurangi atau mengubah habbit yang kurang baik. Tentunya, diharapkan agar kita dapat menjalani kehidupan secara sehat dan lebih bermakna (meaningful).

Lantas, kebiasaan-kebiasaan apa saja yang sering dilakukan tapi tanpa disadari ternyata buat hidup menjadi kurang berkualitas? Simak 6 detox habbit ini!

Kurangi Main HP dan Bermedsos

Sumber: static01.nyt.com

Pertama, penggunaan Gadget setiap hari sudah menjadi kebutuhan penting di zaman modern ini. Sulit sekali seseorang lepas dari genggaman gawai, sebab diperlukan ketika bekerja maupun bersekolah. Hampir tidak mungkin ada yang tidak bergantung sama sekali dengan teknologi handphone.

Bahkan sekalipun itu ibu rumah tangga dan anak-anak usia dini. Sebab kecanggihan HP saat ini tidak lagi sekadar alat komunikasi dan perangkat kerja. Melainkan, juga bisa digunakan untuk belanja online, bermedia sosial, menonton kartun, mendengarkan musik, bertransaksi, dan bermain game.

Namun, yang perlu lo garis bawahi adalah “mengurangi” intensitas screentime. Manfaatkan fitur dan fungsi yang ada di dalamnya dengan bijak. Karena yang harus lo waspadai adalah jangan sampai “kecanduan”. Pesatnya informasi yang terekspos setiap detik di media sosial memang memudahkan siapa saja mengakses dan mengonsumsi konten yang ada. Tapi dampak negatifnya yaitu menjadikan kita malas dan lupa waktu.

Terutama platform-platform yang sifatnya hiburan, seperti media sosial, game online, aplikasi streaming video, musik, dan media baca digital. Ini bisa lo kurangi dengan cara setting batasan waktu aplikasi tersebut setiap harinya di fitur pengaturan handphone. Begini caranya: https://youtu.be/gh03YBp0eGY?si=t4wy-98DxuNW8sTs

Atau juga bisa challenge diri lo untuk melakukan tantangan One Day Without HP per minggu sekali. Selain itu, lo bisa alihkan aktivitas scrolling layar gadget dengan aktivitas positif lainnya. Contoh, pada hari libur lo bisa pergi jalan-jalan bersama keluarga, berolahraga, atau melakukan hobi seperti bersepeda, lari pagi, melukis, memasak, membaca buku, dan sebagainya untuk minimalisir penggunaan HP.

Detox yang satu ini akan sangat bermanfaat untuk kesehatan mata. Sebab terpapar radiasi handphone secara berlebihan dapat menyebabkan kelelahan mata, penglihatan kabur dan rabun jauh, bahkan sakit kepala. Selain itu, membatasi penggunaan internet bisa menghemat biaya pengeluaran. Membatasi diri untuk aktif bermedia sosial juga bisa menjaga kesehatan mental.

Kurangi Gengsi, FOMO, dan Flexing

Sumber: Pinterest by Magalie Foutrier

Kedua, Gengsi yang berlebihan adalah keinginan seseorang untuk terlihat memiliki citra, image, atau harga diri yang tinggi. Orang yang gengsi cenderung tidak ingin dirinya terlihat lebih rendah kastanya dari orang lain. Sehingga, tak jarang bagi mereka memaksakan gaya hidupnya agar tampak high class.

Misalnya, malu jika pekerjaannya sebagai cleaning service diketahui circle pertemanannya, takut dicemooh atau dicampakkan. Contoh lainnya yaitu saat arisan sosialita, bela-belain menyewa tas branded, atau membelinya secara kredit demi gengsi, agar terlihat setara atau bahkan lebih kaya dari ibu-ibu peserta arisan lainnya.

Nah, gengsi ini erat kaitannya dengan flexing atau perilaku menyombongkan diri dengan cara memamerkan suatu hal yang ia miliki. Misalnya, memamerkan perhiasaan yang dikenakan saat arisan, atau berlibur ke tempat wisata dengan memaksakan diri menyewa penginapan mewah untuk foto-foto dan update story di media sosial.

Sedangkan, FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out atau takut ketinggalan tren. Orang yang sedang mengalami gangguan FOMO secara berlebihan, cenderung akan sulit mengendalikan diri untuk mengikuti suatu hal yang sedang populer dibeli atau dilakukan orang kebanyakan pada saat itu.

Apabila ditarik benang merahnya, ketiga perilaku ini memiliki kesamaan dalam menghambur-hamburkan uang. Kebiasaan jelek ini harus dikurangi dan dikendalikan. Detox dengan cara mengelola keuangan secara bijak dan hemat. Misalnya, memisahkan tabungan antara kebutuhan pokok, tabungan darurat, simpanan bulanan, dan keperluan bersosial. Pastikan agar dibatasi pengeluaran yang tidak penting, jangan sampai mengganggu stabilitas keuangan pribadi/ keluarga.

Hal yang paling krusial untuk men-detox perilaku gengsi, FOMO, dan flexing yaitu dengan cara meninggalkan, menjauhi, atau membatasi diri dari lingkungan yang toxic. Carilah pergaulan yang sehat dan positif, yang tidak mendorong lo untuk menjalani gaya hidup yang boros dan glamor, sesuaikanlah dengan kondisi ekonomi lo.

Namun, bilamana perilaku ini sudah berlebihan dan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan, lo bisa lakukan konseling ke psikolog untuk membantu lo mengatasi gangguan tersebut. Sehingga, detox ini juga dapat menjaga kestabilan mental lo agar tetap sehat, terhindar dari sikap gengsi, sombong, iri, ria, dan stres karena pemborosan uang. Dalam jangka panjang, hidup sederhana bikin lo jadi sejahtera, bisa menabung lebih banyak, tentram tanpa persaingan sosial, dan hidup lebih berkualitas.

Kurangi Jajan dan Makan Sembarangan

Sumber: Pinterest by Pinata Digital

Ketiga, selain dapat menghemat pengeluaran, mengurangi kebiasaan jajan juga bisa menjaga pola hidup sehat. Jajan yang berlebihan merupakan tanda seseorang berperilaku konsumtif. Tentu, membeli makanan atau minuman dalam jumlah yang banyak, memungkinkan terjadinya obesitas atau kelebihan berat badan. Apalagi mengonsumsi makanan dan minuman sembarangan, bisa memicu timbulnya penyakit dalam tubuh kita, seperti diabetes.

Oleh karena itu, kendalikan nafsu makan agar tidak mudah tergiur membeli jajanan secara berlebihan. Lalu, pilihlah dengan cerdas makanan dan minuman yang sehat, bersih, serta aman dikonsumsi. Kurangi jajanan yang berminyak seperti gorengan, manis-manis seperti martabak, serta tepung-tepungan seperti cilor, cilung, dan sebagainya.

Makan seblak terlalu sering juga tidak bagus ya guys hehe.. Karena tinggi kalori dan lemak, bisa menyebabkan penyakit kolesterol, gastritis, GERD, hipertensi, obesitas, bahkan gangguan ginjal. Ternyata mengonsumsi makanan dan minuman kemasan atau instan, seperti ikan kaleng, mie instan, ciki atau snack, jus kotak, teh botol, dan semacamnya juga harus dikurangi dan diperhatikan komposisi produknya. Sehingga, sebaiknya membawa bekal ke sekolah atau kantor daripada jajan.

Alangkah lebih baik, kalau lo ngemil buah-buahan, makan makanan real food, memasaknya sendiri agar kebersihannya terjamin, dan diolah dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang. Pastikan kadar gula dan kalori yang lo konsumsi tidak melebihi kepasitas yang seharusnya dalam sehari. Terapkan pola makan yang seimbang, yaitu protein seperti daging ayam, ikan, telor, susu, tempe, dan tahu. Lalu, vitamin dari buah-buahan dan sayur mayur, serta karbohidrat secukupnya dari nasi, roti, dan umbi-umbian.

Detox ini bisa bikin hidup lo lebih berkualitas dengan memiliki tubuh yang sehat, bugar, tanpa penyakit, sehingga lo dapat beraktivitas secara maksimal dan produktif. Selain itu, lo akan tampak lebih good looking dengan berat badan yang ideal. Serta, lo jadi lebih kaya karena tidak boros jajan dan tidak perlu berobat akibat penyakit yang bisa timbul karena jajan sembarangan.

Kurangi Begadang dan Minum Kafein

Sumber: Pinterest by pngtree

Keempat, layaknya mesin yang perlu bahan bakar, manusia pun butuh istirahat yang cukup untuk dapat beraktivitas dengan normal dan maksimal. Sehingga, jangan terlalu memforsir tubuh untuk melakukan pekerjaan secara berlebihan, apalagi sampai mengorbankan waktu tidur. Sebab kebiasaan begadang adalah cara investasi jangka panjang paling mutakhir dalam merusak tubuh.

Orang yang begadang akan mengurangi waktu tidurnya atau bahkan tidak tidur sama sekali. Entah terjaga sampai larut malam bahkan semalaman sampai esok pagi karena insomnia, asyik bermain gadget, atau mengerjakan tugas. Padahal normalnya, manusia memerlukan waktu tidur setidaknya 7 sampai 9 jam dalam sehari. Tidak jarang pula, mereka yang begadang biasanya minum kopi agar kuat menahan kantuk.

Dampak buruknya yaitu menyebabkan gangguan fungsi otak, penurunan imunitas tubuh, menurunnya daya ingat, mempercepat penuaan dini, dan meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, stroke, tekanan darah tinggi, obesitas, hingga gangguan mental.

Ditambah mengonsumsi kopi atau minuman tinggi kafein lainnya bisa memicu gangguan pencernaan, beresiko asam lambung atau gagal ginjal, memicu kecemasan, insomnia, jantung berdebar kencang, tekanan darah tinggi, serta meningkatkan risiko osteoporosis.

Oleh karena itu, penting untuk detox kebiasaan begadang ini demi kehidupan yang lebih berkualitas. Caranya adalah pasang alarm untuk menandakan dan mengingatkan lo agar stop beraktivitas dan segera tidur. Jika perlu, buatlah to do list supaya bisa bantu lo dalam time management yang efisien, sehingga pekerjaan bisa selesai tanpa mengurangi waktu tidur lo. Atau kalau belum selesai di hari itu, lo bisa melanjutkannya lagi di hari esok.

Namun, bila penyebab lo begadang adalah karena gangguan insomnia atau sulit tidur, maka lo bisa minta bantuan konselor atau psikolog. Atau cobalah melakukan peregangan, yoga, mandi air hangat, mendengarkan musik lembut, atau meditasi agar lo bisa lebih relax. Memastikan kenyamanan kamar yang bersih, sunyi, kondusif, dan mengatur pencahayaan juga bisa bantu lo untuk tidur. Selain itu, bisa dengan membatasi konsumsi kafein, alkohol, dan rokok, serta menghindari penggunaan handphone di malam hari.

Kurangi Hangout

Sumber: Pinterest by Namirah

Kelima, buat lo yang ekstrovert dan sangat gaul, lo perlu detox kebiasaan hangout. Tidak masalah bergaul dan bermain bersama teman-teman. Akan tetapi, kalau hangout atau nongkrong bareng ini bikin lo lupa waktu dan mengeluarkan uang, maka sebisa mungkin dikurangi.

Misalnya, lo hampir setiap hari pergi nongkrong sama teman-teman ke cafe sepulang ngantor/ sekolah. Maka, lo bisa bayangkan berapa banyak uang yang lo habiskan untuk membeli kopi mahal dan camilannya. Anggap dalam sekali hangout lo habis Rp20.000, maka dalam seminggu lo bisa habis Rp50.000 – Rp100.000. Jadi, kurangilah sehingga lo bisa berhemat dan menabung lebih banyak.

Selain itu, hangout terus menerus dan terlalu lama bisa buat lo lupa waktu karena keasyikkan mengobrol dan bercanda. Akhirnya, aktivitas yang lain bisa terganggu, mengurangi produktivitas, atau waktu istirahat lo jadi berkurang. Sehingga, lo bisa jadwalkan kapan waktu yang tepat buat lo hangout, batasi jadi seminggu sekali saja, dan pilih tempat hangout yang terjangkau. Lo bisa beralasan dan menolak secara baik-baik jika ada teman lo yang mengajak hangout.

Kurangi PMO

Sumber: Pinterest by TheEconomicTimes

Keenam, kepanjangan PMO adalah Pornografi, Masturbasi, dan Orgasme. Ini merupakan aktivitas seksual yang dilakukan untuk memuaskan diri. Sebenarnya melakukan PMO termasuk kebutuhan normal setiap manusia. Bahkan bisa berdampak positif jika dilakukan sewajarnya, yaitu dapat menstimulus zat endorfin atau hormon kebahagiaan dalam tubuh dan otak kita. PMO bisa bantu lo meredakan stres, memperlambat penuaan dini, memperbaiki kualitas tidur, dan mood jadi lebih baik.

Namun, bila sampai kecanduan PMO, maka dampak negatifnya yaitu mengalami disfungsi, iritasi atau cedera pada alat kelamin, beresiko terkena kanker prostat, mengganggu konsentrasi otak, penurunan kecerdasan dan daya ingat, melemahnya otot, dan penurunan sensitivitas seksual. Orang yang kecanduan PMO juga cenderung mengalami kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Normalnya, kebiasaan PMO cukup dilakukan seminggu sekali, akan lebih baik lagi jika sebulan sekali saja, atau tidak perlu PMO sama sekali jika memang tubuh tidak membutuhkannya. Apabila sudah terlanjur kecanduan, maka bisa detox dengan cara menghindari pemicunya, seperti berhenti atau kurangi menonton pornografi. Beribadah dan olahraga secara teratur juga mampu meminimalisir nafsu/ hasrat seksual.

Lalu, bisa juga saat ada keinginan melakukan aktivitas PMO maka alihkan dengan aktivitas positif lainnya, seperti menyalurkan hobi, bermeditasi, dan menyibukkan diri atau melakukan kegiatan sosial. Akan tetapi, jika memang sulit diatasi dan sudah menjadi gangguan akibat amat kecanduan, maka sebaiknya lakukan terapi ke konselor/ psikolog. Mengatur asupan makanan dan minum obat antidepresan juga dapat membantu mengurangi dorongan seksual.

Kesimpulan

Dengan demikianlah 6 kebiasaan yang bisa lo detox agar hidup menjadi lebih berkualitas. Memang akan menjadi tantangan yang sulit untuk mengubah habbit. Maka dari itu, lo bisa kurangi sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan. Kunci keberhasilan detox ini yaitu komitmen yang kuat, konsistensi, dan melakukan cara-cara atau tips yang sudah dijelaskan.

Sekian, terima kasih sudah membacanya. Semoga bermanfaat yaaa, salam literasi!

Ditulis oleh: Kayla 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Pendidikan" Karya Ki Hajar Dewantara

Bentuk dan Contoh Kompensasi Non Finansial

Program Studi Pendidikan Masyarakat