Lulus Cepat yang Perlu Dibenahi

Gambar 1. Ilustrasi Wisuda

Sebagian mahasiswa berlomba-lomba untuk bisa lulus kuliah secepat mungkin. Tak jarang dari mereka menargetkan lulus sarjana dalam kurun waktu 3,5 tahun, 6 bulan lebih cepat dari yang seharusnya.

Pada umumnya, program sarjana di perguruan tinggi berlangsung selama 8 semester dalam 4 tahun. Namun, mahasiswa diperbolehkan menyelesaikan studinya lebih awal asalkan dapat mengikuti seluruh persyaratan kelulusan dari masing-masing instansi.

Bahkan, ada pula program Fast Track yaitu program yang memungkinkan mahasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dengan waktu yang lebih singkat. Program ini biasanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yang relatif tinggi.

Manfaat lulus cepat

Rencana lulus kuliah dengan waktu yang lebih cepat merupakan pilihan yang bagus. Pasalnya, lulus cepat menawarkan segudang manfaat yang menggiurkan.

Dilansir dari artikel deepublishstore.com yang ditulis oleh Yusuf Abdhul Azis pada 10 Agustus 2021, manfaat lulus cepat diantaranya adalah berpeluang memulai karier lebih dini dan mendapatkan pengalaman kerja yang lebih banyak.

Di saat mahasiswa lain masih menjalankan semester 8, mereka yang lulus lebih cepat sudah bisa meniti karier lebih dulu. Tenaga kerja dengan usia yang masih muda juga menjadi incaran perusahaan-perusahaan. Sebab cenderung memiliki daya produktivitas dan semangat yang tinggi, juga kesehatan yang lebih stabil.

Selain itu, lulus cepat juga memberikan kesan yang baik bagi status sosial di masyarakat. Mereka yang lulus lebih cepat dianggap memiliki kemampuan yang lebih baik dari mahasiswa lainnya. Karena sanggup menyelesaikan studinya dalam rentang waktu yang sebentar. Sehingga, hal tersebut juga bisa membanggakan kedua orang tua.

Keuntungan lainnya adalah dapat menghemat biaya pendidikan. Mereka yang lulus lebih cepat bisa memotong pengeluaran yang seharusnya, yaitu tidak perlu lagi membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) di semester berikutnya.

Satu keuntungan menarik lainnya menurut artikel telkomuniversity.ac.id adalah efektivitas waktu. Mereka yang lulus lebih cepat memiliki banyak waktu untuk mencapai target dan mewujudkan rencana di masa depan. Termasuk tentang karier, beasiswa, finansial, dan pernikahan.

Gambar 2. Keputusan Mengorbankan Sesuatu

Lulus cepat sudah pasti sukses?

Lulus kuliah lebih cepat tidak menjamin seseorang mendapatkan kemudahan dalam meraih kesuksesan. Karena gelar pendidikan bukan kunci satu-satunya, melainkan banyak faktor yang bisa memengaruhi jalan di masa depan.

Terkadang keputusan untuk lulus sarjana lebih cepat tidaklah selalu menguntungkan. Mereka mengasumsikan lulus cepat = lebih cepat mendapatkan pekerjaan dan akan bisa sukses lebih dulu daripada yang lainnya.

Atau mereka beranggapan bahwa lulus lebih cepat bisa meningkatkan status sosial mereka di masyarakat. Itu tidak sepenuhnya salah, memang betul mahasiswa yang mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang cepat apalagi dengan nilai yang terbaik, berpeluang untuk memperoleh pertimbangan khusus bagi perusahaan.

Namun, mereka yang mengambil keputusan untuk mengorbankan "lulus cepat" demi sesuatu yang akan berdampak pada masa depan mereka, akan lebih berpeluang menghadapi berbagai tantangan dunia profesional dengan baik di kemudian hari.

Lulus cepat tidak menjamin dia memiliki skill kerja yang mumpuni, kadang kala lulus cepat hanya cerdas secara teori. Sedangkan, mereka yang lulus pada waktu yang sewajarnya atau bahkan telat karena keputusan mereka untuk kuliah sambil bekerja atau berorganisasi atau sambil mengurus bisnis keluarga, dsb. secara tidak langsung sedang menginvestasikan skill mereka untuk dampak jangka panjang.

Gambar 3. Dunia Profesional

Kebutuhan dunia profesional

Terlepas dari manfaatnya bahwa mereka yang lulus lebih cepat bisa memulai karier lebih awal, lantas apakah yakin setelah lulus dapat langsung diterima kerja oleh perusahaan?

Mereka berlomba-lomba lulus lebih cepat dan mendapatkan nilai terbaik (cumlaude). Tapi di sisi lain, mereka lupa atau tidak tahu bahwa dunia kerja tidak hanya membutuhkan nilai dan lulusan terbaik.

Setiap tahun, tercetak jutaan lulusan sarjana di bumi ini. Artinya, mereka memiliki saingan yang begitu banyak. Sedangkan, mereka tidak yakin dengan keterampilan atau skill apa yang dimiliki.

Itulah yang sedang terjadi di Indonesia, pengangguran dimana-mana, dan tak terkecuali lulusan sarjana pun kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Saat kamu lulus sarjana lebih cepat, dan menghadapi pertanyaan interview kerja, "skill kerja apa yang kamu punya?"

Kamu menjawab, "skill public speaking, atau marketing skill, atau keterampilan menulis, atau editing video skill, atau skill desain grafis, dan sebagainya."

Namun, perusahaan sudah mendengar banyak jawaban yang sama dari para kandidatnya. Lantas, bagaimana kamu meyakinkan perusahaan bahwa kamu memiliki value skill yang lebih baik dari kandidat lainnya?

Apakah dengan memberitahu bahwa kamu mampu lulus kuliah dengan waktu yang cepat? Apakah hal itu cukup membuktikan kepada perusahaan bahwa kamu memiliki skill kerja yang baik dan layak diterima?

Jujur, perusahaan akan lebih tertarik dan percaya jika kamu membuktikan skill kerja yang kamu punya dengan riwayat pengalaman yang telah kamu lakukan untuk mengembangkan skill tersebut.

Realitas yang terjadi

Maman Suherman, seorang jurnalis dan penulis buku. Dalam karyanya yang berjudul "Re: dan peRempuan", menjelaskan bagaimana perjalanannya selama melakukan penelitian skripsinya. Ia secara gamblang memberitahu alasannya sedikit terlambat menyelesaikan studinya di kriminologi UI, sebab sambil bekerja sebagai jurnalis. Selain itu, ia begitu sungguh-sungguh menciptakan karya skripsi yang mendalam dan orisinal. Membuatnya harus melalui proses yang begitu panjang.

Meskipun ia memutuskan untuk mengorbankan "lulus cepat" nya itu, kang Maman kini dikenal sebagai penulis buku yang cukup populer. Tidak hanya itu, sering kali ia bekerja di beberapa stasiun TV sebagai penulis script komedi. Juga telah mengunggah ratusan artikel di berbagai media. Dirinya terbilang sukses dan konsisten sebagai penulis, walau tampak berbeda dari latar belakang pendidikannya, ia berjaya dan tampak sangat menikmati profesinya itu.

Di lain sisi, penulis artikel ini juga pernah mendengar guru sekolahnya bercerita tentang pengalaman anaknya yang cerdas secara akademik. Ia dinyatakan sebagai mahasiswa dengan lulusan terbaik (cumlaude) dan terbilang cukup cepat menyelesaikan studinya. Meskipun begitu, ia sering gagal lolos interview kerja, ternyata menurut guru tersebut, anaknya itu tidak pandai bersosialisasi.

Selama berkuliah, sang anak hanya menyibukkan dirinya untuk terus belajar. Saat ke kampus, tak ada kegiatan selain masuk ke kelas dan langsung pulang untuk mengerjakan tugas. Atau sekalinya ke luar rumah di luar jam perkuliahan, biasanya ia ke perpustakaan atau ke tempat-tempat yang bertujuan untuk mengerjakan tugas kuliah.

Tidak ada kesibukan mengikuti organisasi mahasiswa, atau mengikuti komunitas di luar kampus, tidak ada pengalaman bekerja, dan sebagainya. Itu yang membuat anaknya kurang memiliki keterampilan atau skill karena tidak dikembangkan secara practical. Sehingga, saat interview kerja ia tidak memiliki keterampilan komunikasi yang mumpuni, serta kurangnya pengalaman-pengalaman yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan yang dilamarnya.

Gambar 4. Pentingnya Mengembangkan Skill

Pembenahan lulus cepat

Itulah mengapa, sering terjadi kalau pencari kerja yang fresh graduate kalah bersaing dengan mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja lebih dulu di perusahaan sebelumnya.

Dari sini kita menyadari bahwa proses pembelajaran jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan predikat "lulus cepat". Ternyata, memutuskan untuk belajar lebih lama dan lebih dalam, serta menghabiskan waktu untuk mengeksplor lebih banyak hal bisa lebih menguntungkan ketimbang lulus cepat tanpa perbekalan skills yang matang.

Dewasa ini, kuantitas lulusan sarjana sangatlah tinggi. Namun, kualitas sarjana di negara ini terbilang belum relevan dengan apa yang dicari dan dibutuhkan perusahaan, baik dari segi soft skill maupun hard skill.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa agar aware juga terhadap pengembangan skill secara practical di luar kelas perkuliahan yang hanya teoritis itu.

Misalnya, dengan mengasah kemampuan public speaking dan leadership di berbagai kegiatan organisasi mahasiswa. Bisa juga mengasah keterampilan menulis atau editing skill dengan mengikuti project bersama dosen.

Berkuliah sambil bekerja, magang, atau PKL di perusahaan juga bisa memperkaya pengalaman praktis. Pengalaman mengajar selama masih menjadi mahasiswa di bidang pendidikan juga akan menabung skill dan pengalaman realistis untuk bekerja di masa mendatang.

Selain itu, penting juga untuk mengimbangi antara kesibukan mengembangkan skill dan kewajiban menjalankan perkuliahan dengan sebaik-baiknya. Sehingga, perusahaan akan melihat bahwa kamu adalah orang yang disiplin, bertanggung jawab terhadap pendidikanmu, dan mampu memanajemen waktu di tengah-tengah kesibukan yang kamu jalani secara bersamaan.

Kesimpulan

Jadi, selain fokus pada akademik, jangan lupa juga untuk memperkaya pengalaman dan skill sebagai bekal dalam mewujudkan kesuksesan dan kesejahteraan.

Sehingga, yang kurang tepat dan perlu dibenahi adalah mereka yang berlomba-lomba lulus cepat tapi mengabaikan aspek lainnya. Seperti, pengembangan dan perkaya skill secara praktis di luar kelas perkuliahan.


Terima kasih telah membaca, salam literasi! by: Kayla H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Pendidikan" Karya Ki Hajar Dewantara

Bentuk dan Contoh Kompensasi Non Finansial

Program Studi Pendidikan Masyarakat