Hakikat Dinamika Pembelajaran Orang Dewasa
Filosofis
Orang
dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif jika potensi yang ada dalam
diri mereka digali dan dikembangkan. Dalam upaya ini, diperlukan keterampilan
dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam aktivitas pembelajarannya. Definisi
pendidikan orang dewasa merujuk pada kondisi peserta didik orang dewasa baik
dilihat dari dimensi fisik (biologis), hukum, sosial dan psikologis. Istilah
dewasa didasarkan atas kelengkapan kondisi fisik juga usia, dan kejiwaan,
disamping itu pula orang dewasa dapat berperan sesuai dengan tuntutan tugas
dari status yang dimilikinya.
Pembelajaran
Orang Dewasa (POD) dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah Adult
Learning atau dalam dunia Pendidikan lebih dikenal dengan Andragogi.
Menurut Soedijanto Padmowihardjo, Andragogi merupakan ilmu bagaimana
memimpin atau ilmu mengajar atau membimbing orang dewasa. Pembelajaran Orang
Dewasa (POD) pada dasarnya adalah proses memfasilitasi seseorang untuk mencari
dan menemukan ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan melalui proses
belajar, sehingga semua kegiatan manusia memiliki potensi yang dipergunakan
untuk belajar, yaitu I do and I understand. Hal ini ialah fokus utama
dari andragogi.
Menurut Sudjana dalam Bukunya Pendidikan Non-Formal Wawasan Sejarah Perkembangan Filsafat Teori Pendukung Azas (2005), disebutkan bahwa, Andragogi berasal dari Bahasa Yunani “andra” dan “agogos”. Andra berarti orang dewasa dan Agogos berarti memimpin atau membimbing, sehingga andragogi dapat diartikan ilmu tentang cara membimbing orang dewasa dalam proses belajar. Atau sering diartikan sebagai seni dan ilmu yang membantu orang dewasa untuk belajar (the art and science of helping adult learn).
Dinamika berasal dari kata Dynamics (Yunani) yang bermakna Kekuatan (force). Sedangkan kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi. Jadi istilah dinamika kelompok ini disebut juga dengan proses - proses kelompok (group processes). Secara terminologi pengertian dari dinamika kelompok ataupun proses kelompok ini menggambarkan semua hal atau proses yang terjadi dalam kelompok akibat adanya interaksi individu - individu yang ada dalam kelompok tersebut.
Sejarah
Dalam
sejarah perkembangan ilmu pendidikan, kajian awal tentang konsep pendidikan di
dunia ini berasal dari pemahaman tentang persoalan belajar pada anak dan
pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Dengan pemahaman tersebut, aktivitas
pembelajaran secara dominan didasarkan pada pandangan bahwa pendidikan merupakan
suatu proses transmisi pengetahuan. Konsep inilah kemudian dikenal dengan
istilah pedagogi, yang diartikan sebagai “the art and science of teaching
children” (ilmu dan seni mengajar anak-anak).
Seiring
dengan pesatnya perkembangan teknologi, mobilitas penduduk, perubahan dan
perkembangan zaman, kajian tentang konsep pendidikan mengalami perluasan ke
wilayah pendidikan orang dewasa, sehingga munculah rumusan konsep perbedaan
antara pendidikan anak-anak (pedagogi) dengan pendidikan orang dewasa
(andragogi). Bila pada pedagogi diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar
anak-anak, maka pada andragogi, lebih dimaknai sebagai “the art and science of
helping adult learn” (ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar). Dengan
lahirnya konsep pendidikan orang dewasa, maka pemahaman tentang pendidikan
tidak lagi sekedar upaya untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga
membentuk afektif dan mengembangkan keterampilan sebagai wujud proses
pembelajaran sepanjang hayat.
Istilah
andragogi berasal dari bahasa Yunani “andra dan agogos”. Andra berarti “orang
dewasa” dan agogos artinya “memimpin atau membimbing”, sehingga andragogi
diartikan ilmu tentang cara membimbing orang dewasa dalam proses belajar.
Istilah andragogi pertama kali muncul pada tahun 1833 oleh Alexander Kapp
sebagai istilah pendidikan orang dewasa dalam menjelaskan teori pendidikan yang
dilahirkan ahli-ahli filsafat seperti Plato. Pada perkembangan berikutnya, ahli
pendidikan orang dewasa asal Belanda, Gernan Enchevort membuat studi tentang
asal mula penggunaan istilah andragogi.
Kemudian
pada tahun 1919, Adam Smith memberikan pernyataannya tentang pendidikan orang
dewasa, “pendidikan tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang
dewasa”. Selanjutnya pada tahun 1921, Eugar Rosenstock menyatakan bahwa
pendidikan orang dewasa harus menggunakan guru khusus, metode dan filsafat
khusus. Pada tahun 1926, The American For Adult Education mempublikasikan bahwa
pendidikan orang dewasa mendapat sumbangan dari Aliran ilmiah seperti Edward L
Thorndike dalam bukunya yang berjudul “Meaning Of Adul Education” yang pada
intinya buku tersebut berisi tentang : 1) Pendekatan Pendidikan orang dewasa
dimulai dari situasi, 2) Sumber utama pendidikan orang dewasa adalah pengalaman
si belajar ia juga menyatakan ada empat asumsi pendidikan orang dewasa. Pada
tahun 1928: Edward L. Thorndike menyususn buku “Adult Learning” yang merupakan
buku P endidikan Orang Dewasa pertama dari aliran Scientific.
Gagasan
untuk mengkaji dan mengembangkan andragogi secara konseptual teoretik dilakukan
Malcolm Knowles pada tahun 1970. Menurut Knowles, pendidikan orang dewasa
berbeda dengan pendidikan anak-anak (paedagogi). Paedagogi berlangsung dalam
bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan andragogi berlangsung dalam bentuk
pengembangan diri sendiri untuk memecahkan masalah. Jadi istilah andragogi
mulai dirumuskan menjadi teori baru sejak tahun 1970-an oleh Malcolm Knowles
yang memperkenalkan istilah tersebut untuk pembelajaran pada orang dewasa.
Tujuan
Pembelajaran
Orang Dewasa pada hakikatnya merupakan suatu cara bagaimana membimbing atau
membantu orang dewasa belajar. Belajar pada hakekatnya merupakan kegiatan yang
dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan, menyangkut
pengetahuan, keterampilan, sikap, maupun nilai – nilai. Menurut UNESCO, manusia
dalam mempertahankan hidupnya harus memiliki kecakapan hidup (skill of life),yang
diperoleh dari proses belajar, diantaranya meliputi :
1. Belajar
untuk mengetahui (learning to know)
2. Belajar
untuk melakukan (learning to do)
3. Belajar
untuk menjadi diri sendiri (learning to be myself)
4. Belajar
untuk hidup bersama (learning to life together)
UNESCO lebih tajam mendifinisikan pendidikan orang dewasa sebagai suatu proses pendidikan yang terorganisir baik isi, metode dan tingkatannya, baik formal maupun nonformal, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan di sekolah, akademi, universitas, dan pelatihan kerja yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat dapat mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis maupun profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam persfektif rangkap perkembangan peribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang.
Metodologi
Menurut Trisnowati pada tahun 1985, ciri –
ciri pembelajaran orang dewasa antara lain :
1. Pembelajaran
lebih mengarah ke suatu proses pendewasaan
2. Pembelajaran
yang lebih utama menggunakan eksperimen, diskusi, pemecahan masalah, latihan, simulasi,
dan praktek lapangan.
3. Program
belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya
dan urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik.
4. Pengembangan
kemampuan diorientasikan belajar terpusat kepada kegiatannya.
Prinsip – prinsip belajar untuk orang
dewasa menurut Mary Johnston (1983), diantaranya :
1. Orang
dewasa belajar dengan baik bila dirinya secara penuh ikut serta dalam kegiatan
2. Orang
dewasa belajar dengan baik bila berkaitan dengan kehidupan sehari – hari
3. Orang
dewasa belajar dengan baik bila yang dipelajarinya bermanfaat dan praktis
4. Dorongan
semangat dan pengulangan terus menerus akan membantu belajar dengan baik
5. Proses
belajar dipengaruhi oleh pengalaman dan daya pikir dari warga belajar
Dalam hal proses etika pembelajaran
dilandasi oleh tiga ranah, yaitu :
1. Ranah
Kognitif, yaitu kemampuan dalam berpikir
2. Ranah
Afektif, yaitu kemampuan dalam bersikap
3. Ranah
Psikomotorik, yaitu kemampuan dalam melakukan tindakan fisik (keterampilan)
Langkah – Langkah kegiatan pembelajaran
orang dewasa, adalah sebagai berikut :
1. Menciptakan
iklim belajar yang cocok untuk orang dewasa;
2. Menciptakan
struktur organisasi untuk perencanaan yang bersifat partisipatif;
3. Mendiagnosis
kebutuhan belajar;
4. Merumuskan
tujuan belajar;
5. Mengembangkan
rancangan kegiatan belajar;
6. Melaksanakan
kegiatan belajar;
7. Mendiagnosis kembali kebutuhan belajar (evaluasi).
Referensi / Daftar Pustaka
Modul Pelatihan (BPPSDM Kementerian
Kesehatan RI Pusat Pelatihan SDM Kesehatan)
Jurnal (oleh Moh. Dannur) : Teori Adult
Learning dalam Pendidikan dan Pelatihan
Jurnal (oleh Mustofa Kamil) : ANDRAGOGI
Silabus Web.id : Dasar Filosofis
Pendidikan Orang Dewasa
https://www.google.com/amp/s/www.silabus.web.id/dasar-filosofis-pendidikan-orang-dewasa/amp/
Komentar
Posting Komentar